Budaya

6 Bahasa yang Terancam Punah di Dunia

Tim Redaksi 27 Januari 2025 8 menit baca

Setiap dua minggu, satu bahasa menghilang dari muka bumi. Bersama bahasa tersebut, hilang pula pengetahuan unik tentang dunia yang tidak bisa diekspresikan dalam bahasa lain. Inilah kisah bahasa-bahasa yang berjuang melawan kepunahan.

Krisis Bahasa Global

Dari sekitar 7.000 bahasa yang masih digunakan di dunia, para ahli linguistik memperkirakan bahwa 50-90% akan punah pada akhir abad ini. Ini adalah tingkat kepunahan yang lebih cepat dari kepunahan spesies biologis.

  • 2.500+ bahasa dianggap terancam oleh UNESCO
  • 230 bahasa telah punah sejak 1950
  • 573 bahasa sudah tidak memiliki penutur di bawah 60 tahun

1. Ayapaneco – Meksiko

Ayapaneco adalah bahasa asli dari negara bagian Tabasco, Meksiko, yang kini hanya memiliki dua penutur tersisa. Yang lebih tragis, kedua penutur ini – Manuel Segovia dan Isidro Velazquez – konon tidak mau berbicara satu sama lain karena perselisihan pribadi.

Meski kemudian dilaporkan bahwa mereka sebenarnya tinggal berjauhan dan jarang bertemu, kisah ini menjadi simbol bagaimana bahasa bisa punah karena faktor sosial yang tidak terduga.

"Ketika sebuah bahasa mati, sebuah perpustakaan pengetahuan tentang dunia ikut terbakar bersamanya."

Ken Hale, Ahli Linguistik MIT

2. Jedek – Malaysia

Jedek adalah bahasa yang baru "ditemukan" oleh ilmuwan pada tahun 2017, meski telah digunakan oleh komunitas kecil di hutan hujan Malaysia selama berabad-abad. Bahasa ini hanya memiliki sekitar 280 penutur.

Keunikan Jedek

  • Tidak ada kata untuk "kepemilikan": Mencerminkan budaya berbagi komunitas
  • Tidak ada kata untuk pekerjaan atau pengadilan: Masyarakat tidak mengenal konsep ini
  • Kosakata kaya tentang alam: Ratusan kata untuk jenis tanaman dan hewan

3. Sarcee (Tsuut'ina) – Kanada

Tsuut'ina adalah bahasa suku asli di Alberta, Kanada, dengan hanya sekitar 50 penutur fasih tersisa. Bahasa ini memiliki sistem bunyi yang sangat kompleks yang hampir tidak mungkin dipelajari oleh orang dewasa yang tidak terpapar sejak kecil.

Komunitas Tsuut'ina telah memulai program imersi bahasa di sekolah-sekolah mereka, berharap dapat menciptakan generasi baru penutur fasih.

4. Njerep – Kamerun

Njerep adalah bahasa dari Kamerun yang pada sensus terakhir hanya memiliki 4 penutur, semuanya berusia di atas 60 tahun. Bahasa ini tidak memiliki sistem penulisan dan tidak pernah didokumentasikan secara lengkap.

Mengapa Njerep Punah?

  1. Dominasi bahasa mayoritas: Tekanan untuk menggunakan bahasa Mambila
  2. Urbanisasi: Generasi muda pindah ke kota
  3. Stigma sosial: Bahasa dianggap "kuno" atau "kampungan"
  4. Tidak ada dokumentasi: Tidak ada buku, rekaman, atau materi pembelajaran

5. Koro – India

Koro adalah bahasa "tersembunyi" yang ditemukan di Arunachal Pradesh, India, pada tahun 2008. Meski dikelilingi oleh penutur bahasa lain, komunitas kecil sekitar 800-1.200 orang ini telah menjaga bahasa mereka selama berabad-abad.

Bahasa Koro sangat berbeda dari bahasa-bahasa tetangganya, menunjukkan bahwa mungkin masih ada bahasa-bahasa tersembunyi lainnya yang belum ditemukan oleh para ahli.

"Setiap bahasa menyimpan cara unik untuk memahami dunia. Kehilangan satu bahasa berarti kehilangan satu perspektif tentang kemanusiaan."

Dr. David Harrison, Living Tongues Institute

6. Silbo Gomero – Spanyol

Silbo Gomero adalah "bahasa siul" yang unik dari Kepulauan Canary. Meski bukan bahasa dalam arti tradisional (ini adalah versi siulan dari bahasa Spanyol), Silbo mewakili cara komunikasi yang hampir punah.

  • Fungsi: Digunakan untuk berkomunikasi melintasi lembah yang dalam
  • Jarak: Dapat didengar hingga 5 kilometer
  • Pelestarian: Kini diajarkan wajib di sekolah-sekolah pulau Gomera

Upaya Pelestarian

Berbagai organisasi dan komunitas bekerja keras untuk melestarikan bahasa-bahasa terancam:

  1. Dokumentasi: Merekam penutur terakhir dan membuat kamus
  2. Pendidikan: Program imersi bahasa untuk anak-anak
  3. Teknologi: Aplikasi dan platform digital untuk pembelajaran
  4. Legislasi: Perlindungan hukum untuk bahasa minoritas

Kesimpulan

Setiap bahasa yang punah membawa pergi ribuan tahun kebijaksanaan tentang lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sosial. Bahasa bukan hanya alat komunikasi – ia adalah peta mental tentang cara memahami dunia.

Melestarikan bahasa-bahasa terancam bukan hanya tanggung jawab komunitas penuturnya, tapi juga seluruh umat manusia. Karena ketika satu suara terdiam selamanya, kita semua kehilangan sebagian dari kekayaan kemanusiaan.

Kembali ke Beranda